NUgarislucu: Menghidupkan Kembali Toleransi Beragama K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Media Sosial

Authors

  • Romario Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hamzah Fansuri, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.63875/nahnu.v2i1.38

Keywords:

@NUgarislucu, Toleransi, Gus Dur

Abstract

This research provides an overview of religious tolerance in the social media era which is dominated by conservative Islamic discourse by paying attention to the emergence of the @Nugarislukis account which posts more friendly and humorous Islamic discourse, using K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) as the icon, Nugaris Lucu seems to represent the style of K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) is tolerant and humorous through his Tweets. This article will examine how Nu Garis Lucu represents Gus Dur as its icon, then this article will also analyze Nugaris Lucu's posts relating to the issue of tolerance. The results of this research show that Nugarislukis can show a more tolerant religious discourse with their dialogue Tweets with accounts such as @KatoliGL which give the impression of breaking down barriers of prejudice between religious communities.

Penelitian ini memberikan gambaran toleransi beragama di era media sosial yang didominasi oleh wacana Islam konservatif dengan memberi perhatian kemunculan atas akun @NUgarislucu yang memosting wacana Islam yang lebih ramah dan humoris, menggunakan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai ikonnya, @NUgarislucu seakan merepresentasikan kembali gaya K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang toleran dan humoris melalui cuitannya. Tulisan ini akan mengkaji bagaimana NU Garis Lucu merepresentasi Gus Dur sebagai ikonnya, kemudian tulisan ini juga menganalisis postingan akun @NUgarislucu yang berkaitan dengan masalah toleransi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa @NUgarislucu mampu menunjukkan wacana beragama yang lebih toleran dengan cuitan dialognya dengan akun seperti @KatoliGL yang memberikan kesan runtuhnya sekat-sekat prasangka antar umat beragama.

References

Amelia, I. (2019). NEW MEDIA DAN POPULAR CULTURE:(Studi Etnografi Virtual Popular Culture Pada Fandom Korean Pop Boygrup Exo Di Media Sosial Tahun 2018) [PhD Thesis]. Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Baulch, E., & Pramiyanti, A. (2018). Hijabers on Instagram: Using Visual Social Media to Construct the Ideal Muslim Woman. Social Media + Society, 1–15.

Bruinessen, M. V. (Ed.). (2013). Contemporary Developments in Indonesian Islam: Explaining the" conservative Turn". Institute Of Southeast Asian Studies Singapore.

Burhani, A. N. (2016). Aksi Bela Islam: Konservatisme dan Fragmentasi Otoritas Keagamaan. Maarif Institute, 11 (2), 15–29.

Champbell, H. A. (2013). Understanding Religious Practice In New Media Worlds. Routledge.

Han, M. I. (2018). Anak Muda, Dakwah Jalanan dan Fragmentasi Otoritas: Studi Atas Gerakan Dakwah Pemuda Hijrah dan Pemuda Hidayah. Pascasarjana UIN Sunan Kalijga.

Hasan, N. (2007). Laskar Jihad: Islam, Militancy and the Quest for Indentity in Post-New Order Indonesia. Southeat Asia Program Publication.

Hilmy, M. (2011). Akar-Akar Transnasionalisme Islam Hizbut Tahrir Indonesia. Islamica, 6 (1), 1–13.

Hosen, N. (2008). Online Fatwa In Indonesia: From Fatwa Shopping to Googling a Kiai (G. Fealy & S. White, Eds.). Institute Of Southeast Asian Studies Singapore.

Husein, F., & Slama, M. (2018). Online Piety And Its Discontent: Revisiting Islamic Anxieties On Indonesian Social Media. Indonesia and the Malay World, 46 (134), 80–93.

Jamrah, S. A. (2015). Toleransi Antarumat Beragama: Perspektif Islam. Jurnal Ushuludin, 23 (2), 185–200.

Jannah, I. L. (2018). Kontestasi Makna Hijab Dalam Ruang Media Sosial Instagram (Sunarwoto, Ed.). Arti Bumi Intaran.

Kiptiyah, S. M. (2017). The Celebrity’s Kyai And New Media. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 19 (3), 339–352.

Lim, M. (2013). Many Clicks but Little Sticks: Social Media Activism in Indonesia. Routledge, 636–657. https://doi.org/Many Clicks but Little Sticks: Social Media Activism in Indonesia

Maulana, D. (2018). Situs-Situs Islam: Kontestasi Narasi Radikal dan Moderat. Pusat Pengkajian Dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1 (3).

Naim, N. (2016). Abdurrahman Wahid: Universalisme Islam dan Toleransi. KALAM, 10 (2), 423–444.

Nisa, E. F. (2018). Creative and Lucrative Daʿwa: The Visual Culture of Instagram amongst Female Muslim Youth in Indonesia. Asiascape: Digital Asia, 5, 68–99.

Pratama, B. I. (2017). Etnografi Dunia Maya Internet. Universitas Brawijaya Press.

Surwadiyamsyah. (2017). Pemikiran Abdurrahman Wahid Tentang Toleransi Beragama. JURNAL AL-IRSYAD, VII (1), 115–127.

Triantoro, D. A. (2019). Ustaz Abdul Somad, Otoritas Karismatik dan Media Baru. Pascasarjana UIN Sunan Kalijga.

Weng, H. W. (2018). The Art Of Dakwah: Social Media, Visual Persuasion And The Islamist Propagation Of Felix Siauw. Indonesia and the Malay World, VOL. 46, NO. 134, 61–79.

Zainal Arifin Thoha, Kenyelenehan Gus Dur Gugatan Kaum Muda NU dan Tantangan Kebudayaan, Yogyakarta: Gama Media, Cet. Ke-1, 2001

CNN Indonesia. (2019). Din Syamsuddin Sebut Protes Volume Azan Bukan Penistaan Agama. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180826180859-12-325059/din-syamsuddin-sebut-protes-volume-azan-bukan-penistaan-agama

Tempo. (2019). Protes Meilana dan Arutan Soal Pengeras Suara Masjid. https://nasional.tempo.co/read/1119772/protes-meiliana-dan-aturan-soal-pengeras-suara-

Downloads

Published

2024-06-30

Issue

Section

Articles