Nahdlatul Ulama, Pesantren, and Their Contribution to Strengthening National and State Buildings in Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.63875/nahnu.v1i1.5Keywords:
Nahdlatul Ualam, Pesantren, Kebangsaan, Kenegaraan, IndonesiaAbstract
Studi ini mengkaji eksistensi dan kontribusi besar organisasi Islam Nahdlatul Ulama dan Pesantren dalam memperkuat bangunan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia, baik kontribusi yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Secara metodologi, kajian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Setelah melakukan analisa data lapangan, studi ini mendapati temuan penting bahwa pesantren dan organisasi NU adalah dua lembaga keagamaan Islam tradisional, yang dalam banyak hal memiliki tradisi beragama sama, baik di level pemikiran maupun aktivitas agama sehari-hari. Pun demikian halnya dengan pandangan atau pemikiran keduanya terkait konsep kebangsaan dan kenegaraan, pesantren dan NU memiliki sudut pandang yang sama. Karena secara umum, baik NU ataupun komunitas pesantren sama-sama mengadopsi ide kebangsaan dan kenegaraan dari pemikiran besar para kyai terdahulu, terutama dari pemikiran KH. H. Hasyim Asy’ari tentang pentingnya persatuan. Bahwa komitmen berbangsa dan bernegara adalah ikhtiar memelihara persatuan, di mana suatu bangsa atau negara dapat menjadi maju dan hidup makmur manakala ada sikap dan semangat dan persatuan di setiap warganya.
References
A’dhom, Syamsul. “Sistem pendidikan Pesantren Tradisional dalam Era Modern.” Jurnal Pusaka, 2015, 11.
Alim, Zainal. “Pergeseran Orientasi Kelembagaan Pesantren di Madura dalam Perspektif Kiai Bangkalan.” Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) 4, no. 2 (2 November 2016): 249. https://doi.org/10.15642/jpai.2016.4.2.249-270.
Anas, A Idhoh. “Kurikulum dan Metodologi Pembelajaran Pesantren.” Cendekia: Jurnal Kependidikan dan Kemasyarakatan 10, no. 1 (1 Juni 2012): 29. https://doi.org/10.21154/cendekia.v10i1.400.
Anisaturrohmah, Yeni. “Modernisasi pondok pesantren dalam meningkatkan wawasan keilmuan santri putri I Al-Amien Prenduan Sumenep Madura.” Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim., 2008.
Aqiel Siradj, Sa’id. Pesantren Masa Depan, Cet. I. Bandung: Pustaka Hidayah, 1999.
Arifin, Zainal. “Budaya Pesantren Dalam Membangun Karakter Santri.” Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan 6, no. 1 (13 Januari 2016): 1–22. http://ejournal.kopertais4.or.id/tapalkuda/index.php/qodiri/article/view/1158.
Bani, Suddin. “Kontribusi Pesantren dalam Sistem Pendidikan Nasional.” AULADUNA 2, no. 2 (t.t.): 10.
Baso, Ahmad, dan Makruf Amin. Historiografi Khittah dan Politik Nahdlatul Ulama. Jakarta: Yayasan Garuda Bumandhala, 2021.
Bindaniji, Muhamad, dan Moh Ashif Fuadi. “Post-Tradisionalisme: Membincang Basis Epistemologi danTransformasi Gerakan Moderasi Beragama Nahdlatul Ulama.” Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 24, no. 1 (2022).
Bruinessen, Martin van. “Indonesian Muslims and their place in the larger world of Islam,” 1 Januari 2011.
Bruinessen, Martin van. NU, Tradisi, Relasi-relasi Kuasa. Yogyakarta: LKiS, 1994.
Computer, Angga. “Runtuhnya Dikotomi Tradisionalis dan Modernis: Menilik Dinamika Sejarah Nahdatul Ulama dan Muhammadiayah.” Jurnal Istoria 9, no. 1 (2010).
Fadli, Muhammad Rijal, dan Ajat Sudrajat. “Keislaman dan Kebangsaan: Telaah Pemikiran Kh. Hasyim Asy’ari.” Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora 18, no. 1 (16 Juni 2020): 109. https://doi.org/10.18592/khazanah.v18i1.3433.
fatah, Abdul, dan Rohandi Rohandi. Rekonstruksi Pesantren Masa Depan Dari Tradisional, Modern Hingga Post Modern, Cet. I. Jakarta: Listafarika Putra, 2001.
Fatah Munawir, Abdul. Tradisi Orang-Orang NU, Cet. II. Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006.
Fealy, Greg. Ulama and Politics in Indonesia: A History of Nahdlatul Ulama, 1952-1967. Australia: Monash University, 1998.
Fealy, Greg, dan Robin Bush. “The Political Decline of Traditional Ulama in Indonesia: The State, Umma and Nahdlatul Ulama.” Asian Journal of Social Science 42, no. 5 (2014): 536–60. http://www.jstor.org/stable/43495819.
Fifi Nofiaturrahmah. “Melacak Peran Kyai-Santri dalam Politik Kebangsaan di Indonesia.” Islamic Review: Jurnal Riset dan Kajian Keislaman 3, no. 1 (24 Januari 2018). https://doi.org/10.35878/islamicreview.v3i1.63.
H Siregar, Rusman. “Kisah KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru.” SINDOnews.com, Agustus 2021. https://kalam.sindonews.com/read/515546/70/kisah-kh-hasyim-asyari-dan-kh-ahmad-dahlan-dua-tokoh-satu-guru-1629356923.
Hajar, Ibnu. Kiai di Tengah Pusaran Politik, Cet. II. Jogjakarta: IRCiSoD, 2009.
Hizbullah, Muhamad. “Dakwah Harakah, Radikalisme, dan Tantangannya di Indonesia.” Misykat Al-Anwar; Jurnal Kajian Islam dan Masyarakat 29, no. 2 (2018): 14.
Madjid, Nurcholish. Bilik-Bilik Pesantren; Sebuah Potret Perjalanan, Cet. I. (Jakarta: PT. Dian Rakyat, 2002.
Muhammad, Nurdinah. “Memahami Konsep Sakral dan Profan dalam Agama-Agama.” Jurnal Substantia 15, no. 2 (2013): 13.
Muhyiddin. “Guru Para Kiai, Syaikhona Kholil Bangkalan.” Republika Online, 2 Februari 2021. https://republika.co.id/share/qnwm5p366.
Mustaqim, Muhamad. “Politik Kebangsaan Kaum Santri.” Jurnal Addin 9, no. 2 (2015).
Nizar, Muchamad Coirun. “Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang Persatuan.” Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi 1, no. 1 (1 Desember 2017): 63. https://doi.org/10.14710/endogami.1.1.63-74.
Pribadi, Yanwar. “Religious Networks in Madura: Pesantren, Nahdlatul Ulama, and Kiai as the Core of Santri Culture.” Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies; Vol 51, No 1 (2013)DO - 10.14421/ajis.2013.511.1-32 51, no. 1 (15 Juni 2013). https://aljamiah.or.id/index.php/AJIS/article/view/151.
Royani, Ahmad. “Pesantren dalam Bingkai Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.” Jurnal Islam Nusantara 2, no. 1 (30 Juni 2018): 121. https://doi.org/10.33852/jurnalin.v2i1.75.
Sholikah, Sholikah, dan Nurotun Mumtahanah. “Konstribusi Kebangsaan Kiai Hasyim Asy’ari: Membangun Relasi Harmonis Islam dan Indonesia.” Akademika 15, no. 1 (1 Juli 2021). https://doi.org/10.30736/adk.v15i1.515.
Sitompul, Einar M. Nahdlatul Ulama dan Pancasila, Cet. I. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan., 1989.
Syahriman, Agung, dan Agus Mulyana. “Peranan KH. Abdul Wahid Hasyim dalam Pemerintahan Indonesia Tahun (1945-1953).” FACTUM: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah 8, no. 1 (23 September 2019): 15–32. https://doi.org/10.17509/factum.v8i1.20113.
Syam, Syamsuar. “Tradisionalisme Islam Suatu Karakter dan Pola Pengembangan Islam di Indonesia.” Al-Hikmah: Jurnal Dakwah dan Ilmu Komunikasi, 1 Juni 2018, 20–30. https://doi.org/10.15548/al-hikmah.v0i0.90.
Syarif, Zainuddin, Syafiq A. Mughni, dan Abd Hannan. “Responses of Pesantrens in Madura Towards the Covid-19 Pandemic.” Journal of Indonesian Islam 15, no. 1 (1 Juni 2021): 47. https://doi.org/10.15642/JIIS.2021.15.1.47-74.
Wahid, Abdurrahman. Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Jakarta: The Wahid Instiute, 2006.
Wahid Husain, Muhammad. “Konsepsi Persatuan Kebangsaan Menurut Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari.” Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2021.
William, Ciputra. “8 Kiai Bergelar Pahlawan Nasional, Ada KH Hasyim Asyari hingga KH Ahmad Dahlan.” KOMPAS.com, 19 Januari 2022. https://regional.kompas.com/read/2022/01/19/101200578/8-kiai-bergelar-pahlawan-nasional-ada-kh-hasyim-asyari-hingga-kh-ahmad.
Zainuddin, Syarif, dan Abd Hanan. “Kearifan Lokal Pesantren sebagai Bangunan Ideal Moderasi Islam Masyarakat Madura.” ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman 14, no. 2 (2020).
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 Ach. Fatayillah Mursyidi; Abd Hannan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

























